Disini.....
pada malam penghujung tahun penuh warna
ku ingin bercerita kepadamu, kawan...
kisah usang yang pernah diceritakan ibuku
tentang sebuah desa....
jauh...dipedalaman kabupaten indragiri hilir
desa yang dulu menjadi basis pertahanan pejuang masa revolusi 1949
bahkan pernah dijadikan pusat pemerintahan darurat militer INHIL
itulah desaku GAUNG ANAK SERKA
Simaklah kisah ini, kawan!
betapa gigih pejuang-pejuang kita dahulu
menebangi pohon-pohon pedada dan bakau
untuk menghalangi gerak maju kapal belanda
miski nyawa taruhannya
Cerita itu telah berlalu sekian musim, kawan!
kini, sungai Anak Serka tak lagi bau anyir darah
tapi warnanya tetap merah kecoklatan
campuran lumpur yang dibawa ombak dari tanah beting
endapan pantai delta
sungai yang membawa berkah bagi para nelayan
dan mendatangkan rahmat untuk kaum petani
karna disanalah sumber kehidupan mereka....
Kini, kawan...!
Gaung Anak Serka, kata ibuku...!
hampir tak terdengar lagi ketukan kompang
jarang terlihat rentak tarian zapin
dan indahnya alunan musik berdah
miski acara mandi syafar dan gotong royong tetap menjadi kebiasaan
namun gaungnyasudah mulai berkurang
dendangnya sudah mulai lenyap
pudar..ditelan teknologi dan kemajuan zaman
tapi,bagaimanapun keadaannya, kawan....!
tetaplah desaku
tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan
kampung kebanggaan turun temurun
itulah desaku GAUNG ANAK SERKA